Kamis, 18 Juli 2013

Dahlan Iskan






Dahlan Iskan lahir di Desa Kebun Dalam Tegalarum, Kecamatan Bando, Magetan, Jawa Timur, tahun 1951. Akan tetapi, seperti pada umumnya orang-orang jaman dulu khususnya keluarga miskin atau petani  tidak tahu kapan tepatnya tanggal dan bulan kelahiran mereka. Dahlan Iskan akhirnya memutuskan sendiri tanggal dan bulan kelahirannya, yaitu 17 Agustus. Ia memilih tanggal serta bulan itu agar mudah diingat karena bertepatan dengan kemerdekaan Indonesia.
Sejak kecil, Dahlan sudah akrab dengan kemiskinan. Pakaian yang ia miliki hanya satu celana pendek, satu baju dan satu sarung. Kain sarung yang ia miliki bisa dijadikan alat serbaguna olehnya. Mulai dari sebagai alat ibadah, pengganti baju jika ia mencuci bajunya, pengganti celana jika ia mencuci celananya, selimut, bahkan karung jika ia sedang mengumpulkan sisa panen kedelai orang kaya.
Dahlan Iskan memulai karirnya sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda setelah ia tidak menyelesaikan kuliahnya di Universitas 17 Agustus dan IAIN (sekarang STAIN) dan lebih memilih untuk menggeluti dunia kewartawanan di Koran kampus dan aktif dibeberapa organisasi seperti Pelajar Islam Indonesia. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Ketika itu Dahlan meliput musibah Tampomas dan menulisnya untuk laporan utama Tempo dan Hasilnya luar biasa bagus sehingga Dahlan akhirnya dipromosikan menjadi kepala biro Tempo Jatim. Ketika di Surabaya,
seringkali Dahlan menulis berita dan dikirimkan ke Koran lain selain Tempo seperti Surabaya Post dan mingguan Ekonomi Indonesia untuk mendapat pemghasilan lebih. Akibatnya, ia kerap ditegur Tempo karena mengirim tulisan ke media lain.
Pada tahun 1982, Dahlan Iskan dipercaya untuk memimpin Koran Jawa Pos yang dibeli oleh Eric Samola (Direktur Utama PT Grafiti Pers, penerbit Tempo). Koran ini dahulu beranama Java Post yang kemudian menjadi Djawa Post dan akhirnya menjadi Jawa Pos. Pada saat itu, pasar Koran Surabaya dikuasai oleh harian Surabaya Post dan Kompas.  Jawa Pos waktu itu hamper mati dengan sirkulasi Cuma 6.800 eksemplar. Dalam kurun waktu lima tahun pertama (1982-1987), Dahlan iskan telah menjadikan Jawa Pos surat kabar spektakuler dengan oplah 126.000 eksemplar beserta omset tahunan melejit sampai Rp 10,6 miliar atau 20 kali lipat dari omset ditahun pertama (1982).
Pada tahun 1993, dalam usia 42 tahun, Dahlan Iskan memutuskan berhenti sebagai pemimpin redaksi dan pemimpin umum Jawa Pos. Inisiatifnya untuk berhenti ini sangat regenerasi , memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk berkarya dan juga karena ia ingin lebih fokus sebagai orang nomor satu Jawa Pos News Network yang ia dirikan selanjutnya.
Pada tahun 1997, ia berhasil mendirikan Graha Pena, gedung perkantoran berlantai 20, dan menjadi salah satu gedung pencakar langit di Surabaya. Kemudian gedung serupa juga dibangun di Jakarta pada tahun 2002. Dhalan mengembangkan bisnis medianya dengan membentuk Jawa Pos News Network (JPNN) yang merupakan jaringan media terbesar di tanah air yang memimpin 190 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta memiliki 40 percetakan di seluruh Indonesia. Kemudian Dahlan Iskan juga merambah media elektronik dengan mendirikan stasiun televise lokal JTV di Surabaya, Batam TV di Batam, Riau TV di Pekanbaru, FMTV di Makassar, PTV di Palembang, dan Parahyangan TV di Bandung, bahkan diversifikasi bisnis usahanya tidak hanya seputar media cetak dan elektronikk, kini telah mulai merambah bidang bisnis real estate dan perhotelan. Saat ini, TV lokal yang ada sudah mencapai 34 buah.
Pada 23 September 2009, Dahlan diangkat menjadi direktur utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar yang dikritik karena selama kepemimpinannya banyak terjadi mati lampu di daerah Jakarta. Banyak orang yang tidak setuju akan hal ini, dikarenakan Dahlan Iskan bukanlah seorang yang berpendidikan ataupun berada dalam bidang PLN. Menanggapi cibiran tersebut, Dahlan dengan lugasnya menjawab melalui petikan : “PLN ini tempat berkumpul oran-orang hebat, karyawan lulusan SMA jurusan terhebat, Fisika, jurusan yang dianggap paling pintar. Lalu, masuk fakultas teknik elektro ITB, yang juga terhebat. Lulus ITB, diseleksi lagi masuk PLN oleh senior-senior yang hebat. Tidak diragukan lagi, PLN adalah kumpulan orang-orang terhebat dan terpintar di negeri ini” “ Ya. Yang dibutuhkan sekarang adalah manusia bodoh seperti saya”. Semenjak memimpin PLN, Dahlan membuat beberapa gebrakan diantaranya bebas byar pet se Indonesia dalam waktu 6 bulan, gerakan sehari sejuta sambungan, pencabutan capping. Dahlan juga berencana membangun PLTS di 100 pulau pada tahun 2011. Sebelumnya, tahun 2010 PLN telah berhasil membangun PLTS di 5 pulau di Indonesia bagian Timur yaitu Pulau Banda, Bunaken Manado, Derawan Kalimantan Timur, Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan Citrawangan. Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.

Dua tahun menjabat sebagai Direktur Utama PLN, pada tanggal 17 Oktober 2011, Dahlan Iskan ditunjuk oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pengganti Menteri BUMN yang menderita sakit. Ia terisak dan terharu begitu dirinya dipanggil menjadi menteri BUMN karena ia berat meninggalkan PLN yang menurutnya sedang pada puncak semangat untuk melakukan reformasi PLN serta ia harus menanggung tanggung jawab yang besar dengan memegang amanah yang besar ini.

Hal-hal menarik dalam sosok Dahlan Iskan
  • Walau berasal dari keluarga yang miskin serta tidak mengenyam pendidikan yang tinggi, tapi Ia dapat menjadi sosok yang penting dalam Negara.
  • Dalam kurun waktu 5 tahun, ia telah dapat membangkitkan Jawa Pos yang hampir mati dan menjadikan Jawa Pos sebagai surat kabar paparan atas seperti Kompas.

Hal-hal yang dapat diteladani dari Dahlan Iskan
  • Selama menjadi Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan memilih tidak mengambil gaji dan menempati rumah dinas yang telah menjadi haknya. Ditengah maraknya korupsi, Dahlan justru memilih hal yang berlawanan.
  • Walaupun Pemimpin, Dahlan Iskan turut ikut kelapangan untuk mengawasi kerja karyawan-karyawannya.
  • Tetap menjadi diri sendiri dengan penampilan seperti biasanya walaupun telah memikul profesi yang tinggi.
  • Selalu memiliki ide yang brilian dan langsung melaksanakan gebrakan-genrakan menuju perubahan yang lebih baik.
  • Tidak egois, mengerti bahwa generasi muda lebih pantas untuk memimpin sesuai dengan zamannya.
  • Tetap berusaha walaupun rintangan terus menerpa dan tidak pernah berputus asa.

Identitas Dahlan Iskan
  • Nama: Dahlan Iskan
  •  Lahir: Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951
  • Jabatan: Menteri BUMN 19 Oktober - sekarang, Chairman Jawa Pos Grup, 2000 - sekarang.
  • Istri: Nafsiah Sabri
  •  Anak: Azrul Ananda dan Isna Fitriana
  •  Agama: Islam
  • Pendidikan: Fakultas Hukum IAIN Sunan Ampel, Minout Indonesia LPPM (1979), FINNON LPPM (1980).
  • Karier:
  1. Wartawan majalah Tempo (1976)
  2.  Pemimpin surat kabar Jawa Pos sejak 1982
  3. Komisaris PT.Fangbian Iskan Corporindo (FIC) 2009
  4. Direktur Utama Perusda PT. PWU Jatim Group (2000)
  5.  Komisaris pabrik kertas Adiprima Suraprinta
  6.  Komisaris Power Plant PT. Prima Elektrik Power di Surabaya
  7. Direktur Utama Power Plant PT.Cahaya Fajar Kaltim
  8. Komisaris Kaltim Elektrik Power
  9. Ketua Umum Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) se-Indonesia
  10. CEO Jawa Pos Group, 2000 - sekarang
  11. Direktur Utama PLN 23 Desember 2009 - 19 Oktober 2011
  12. Menteri BUMN, 19 Oktober - sekarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar